Linda, mahasiswi hukum Universitas Pajajaran

September 9, 2007 at 8:33 am (Mahasiswi)

Aku Linda, mahasiswi hukum Universitas Pajajaran. Semenjak dua tahun
yang lalu, saat diterima kuliah di Universitas Pajajaran, aku tinggal
di Bandung. Aku berasal dari Sukabumi, ayahku berasal dari Bandung,
sedangkan ibuku asli Sukabumi. Mereka tinggal di Sukabumi. Cerita ini
menceritakan kisahku yang terjadi saat aku kelas 1 SMA di Sukabumi
yang terus berlanjut sampai aku kuliah sekarang.

Aku anak yang paling tua dari dua bersaudara. Aku mempunyai satu adik
laki-laki. Umurku berbeda 2 tahun dengan adik. Kami sangat dimanja
oleh orang tua kami, sehingga tingkahku yang tomboy dan suka maksa
pun tidak dilarang oleh mereka. Begitupun dengan adikku yang tidak
mau disunat walaupun dia sudah kelas 2 SMP.

Waktu kecil, aku sering mandi bersama bersama adikku, tetapi sejak
dia masuk SD, kami tidak pernah mandi bersama lagi. Walaupun begitu,
aku masih ingat betapa kecil dan keriputnya penis seorang cowok.
Sejak saat itu, aku tidak pernah melihat lagi penis cowok. Sampai
suatu ketika, pada hari senin sore, aku sedang asyik telpon dengan
teman cewekku. Aku telpon berjam-jam, kadang tawa keluar dari
mulutku, kadang kami serius bicara tentang sesuatu, sampai akhirnya
aku rasakan kandung kemihku penuh sekali. Aku kebelet pipis. Benar-
benar kebelet pipis, sudah di ujung lah. Cepat-cepat kuletakkan
gagang telpon tanpa permisi dulu sama temanku. Aku berlari menuju ke
kamar mandi terdekat. Ketika kudorong ternyata sedang dikunci.

“Hey..! Siapa di dalam..? Buka dong..! Udah nggak tahan..!” aku
berteriak sambil menggedor-gedor pintu.
“Akuu..! Tunggu sebentar..!” ternyata adikku yang di dalam. Terdengar
suaranya dari dalam.
“Nggak bisa nunggu..! Cepetan..!” kataku memaksa.
Gila, aku benar-benar sudah tidak kuat menahan ingin pipis.

“Kreekk..!” terbuka sedikit pintu kamar mandi, kepala adikku muncul
dari celahnya.
“Ada apa sih..?” katanya.
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku langsung nyerobot ke dalam karena
sudah tidak tahan. Langsung aku jongkok, menaikkan rokku dan membuka
celana dalamku.
“Serrrr…” keluar air seni dari vaginaku.
Kulihat adikku yang berdiri di depanku, badannya masih telanjang
bulat.

“Wooiiyyy..! Sopan dikit napa..?” teriaknya sambil melotot tetap
berdiri di depanku.
“Sebentarrr..! Udah nggak kuat nih,” kataku.
Sebenarnya aku tidak mau menurunkan pandangan mataku ke bawah. Tetapi
sialnya, turun juga. Kelihatan deh burungnya.
“Hihihihi..! Masih keriput kayak dulu, cuma sekarang agak gede
dikitlah…” gumanku dalam hati.
Aku takut tertangkap basah melihat penisnya, cepat-cepat kunaikkan
lagi mataku melihat ke matanya. Eh, ternyata dia sudah tidak melihat
ke mataku lagi. Sialan..! Dia lihat vaginaku yang lagi mekar sedang
pipis. Cepat-cepat kutekan sekuat tenaga otot di vaginaku biar cepat
selesai pipisnya. Tidak sengaja, kelihatan lagi burungnya yang masih
belum disunat itu. Sekarang penisnya kok pelan-pelan semakin gemuk.
Makin naik sedikit demi sedikit, tapi masih kelihatan lemas dengan
kulupnya masih menutupi helm penisnya.

“Sialan nih adikku. Malah ngeliatin lagi, mana belum habis nih air
kencing..!” aku bersungut dalam hati.
“Oooo..! Kayak gitu ya Teh..?” katanya sambil tetap melihat ke
vaginaku.
“Eh kurang ajar Lu ya..!” langsung saja aku berdiri mengambil gayung
dan kulemparkan ke kepalanya.
“Bletak..!” kepala adikku memang kena pukul, tetapi hasilnya air
kencingku kemana-mana, mengenai rok dan celana dalamku.

“Ya… basah deh rok Teteh…” kataku melihat ke rok dan celana
dalamku.
“Syukurin..! Makanya jangan masuk seenaknya..!” katanya sambil
mengambil gayung dari tanganku.
“Mandi lagi ahh..!” lanjutnya sambil menyiduk air dan menyiram
badannya.
Terus dia mengambil sabun dan mengusap sabun itu ke badannya.
“Waduh.., sialan nih adik..!” sungutku dalam hati.
Waktu itu aku bingung mau gimana nih. Mau keluar, tapi aku jijik pake
rok dan celana dalam yang basah itu. Akhirnya kuputuskan untuk buka
celana dalam dan rokku, lalu pinjam handuk adikku dulu. Setelah
salin, baru kukembalikan handuknya.

“Udah.., pake aja handuk Aku..!” kata adikku.
Sepertinya dia mengetahui kebingunganku. Kelihatan penisnya mengkerut
lagi.
“Jadi lucu lagi gitu..! Hihihi..!” batinku.
Aku lalu membuka celana dalamku yang warnanya merah muda, lalu rokku.
Kelihatan lagi deh vaginaku. Aku takut adikku melihatku dalam keadan
seperti itu. Jadi kulihat adikku. Eh sialan, dia memang memperhatikan
aku yang tanpa celana.

“Teh..! Memek tu emang gemuk kayak gitu ya..? Hehehe..!” katanya
sambil nyengir.
Sialan, dia menghina vaginaku, “Iya..!” kataku sewot. “Daripada culun
kayak punya Kamu..!” kataku sambil memukul bahu adikku.
Eh tiba-tiba dia berkelit, “Eitt..!” katanya.
Karena aku memukul dengan sekuat tenaga, akhirnya aku terpeleset.
Punggungku jatuh ke tubuhnya. Kena deh pantatku ke penisnya.
“Iiihhh.., rasanya geli banget..!” cepat-cepat kutarik tubuhku sambil
bersungut, “Huh..! Elo sih..!”

“Teh.. kata Teteh tadi culun, kalau kayak gini culun nggak..?”
katanya mengacuhkan omonganku sambil menunjuk ke penisnya.
Kulihat penisnya mulai lagi seperti tadi, pelan-pelan semakin gemuk,
makin tegak ke arah depan.
“Ya.. gitu doang..! Masih kayak anak SD ya..?” kataku mengejek dia.
Padahal aku kaget juga, ukurannya bisa bertambah begitu jauh. Ingin
juga sih tahu sampai dimana bertambahnya. Iseng aku tanya, “Gedein
lagi bisa nggak..?” kataku sambil mencibir.
“Bisa..! Tapi Teteh harus bantu dikit dong..!” katanya lagi.
“Megangin ya..? Wekss.., ya nggak mau lah..!” cibirku.
“Bukan..! Teteh taruh ludah aja di atas tititku..!” jawabnya.

Karena penasaran ingin melihat penis cowok kalau lagi penuh, kucoba
ikuti perkataan dia.
“Gitu doang kan..? Mau Teteh ngeludahin Kamu mah. Dari dulu Teteh
pengen ngeludahin Kamu””Asyiiikkk..!” katanya.
Sialan nih adikku, aku dikerjain. Kudekatkan kepalaku ke arah
penisnya, lalu aku mengumpulkan air ludahku. Tapi belum juga aku
membuang ludahku, kulihat penisnya sudah bergerak, kelihatan penisnya
naik sedikit demi sedikit. Diameternya makin lama semakin besar, jadi
kelihatan semakin gemuk. Dan panjangnya juga bertambah. Asyiik banget
melihatnya. Geli di sekujur tubuh melihat itu semua. Tidak lama
kepala penisnya mulai kelihatan di antara kulupnya. Perlahan-lahan
mendesak ingin keluar. Wahh..! Bukan main perasaan senangku waktu
itu. Aku benar-benar asyik melihat helm itu perlahan muncul. Seperti
penyanyi utama yang baru muncul di atas panggung setelah ditunggu
oleh fans-nya.

Akhirnya bebas juga kepala penis itu dari halangan kulupnya. Penis
adikku sudah tegang sekali. Menunjuk ke arahku. Warnanya kini lebih
merah. Aku jadi terangsang melihatnya. Kualihkan pandangan ke adikku.
“Hehe…” dia ke arahku. “Masih culun nggak..?” katanya
lagi. “Hehe..! Macho kan..!” katanya tetap tersenyum.
Tangannya tiba-tiba turun menuju ke selangkanganku. Walaupun aku
terangsang, tentu saja aku tepis tangan itu.

“Apaan sih Elo..!” kubuang tangannya ke kanan.
“Teh..! Please Tehhh.. Pegang aja Teh… Nggak akan diapa-apain…
Aku pengen tahu rasanya megang itu-nya cewek. Cuma itu aja Teh..”
kata adikku, kembali tangannya mendekati selangkanganku.
Waduuhh.. sebenarnya aku mau jaga image, masa mau sih sama adik
sendiri, tapi aku juga ingin tahu bagaimana rasanya dipegang oleh
cowok di vagina.
“Inget..! Jangan digesek-gesekin, taruh aja tanganmu di situ..!”
akhirnya aku mengiyakan. Deg-degan juga hati ini.

Tangan adikku lalu mendekat, bulu kemaluanku sudah tersentuh oleh
tangannya. Ihh geli sekali… Aku lihat penisnya sudah keras sekali,
kini warnanya lebih kehitaman dibanding dengan sebelumnya. Uuppss…
Hangatnya tangan sudah terasa melingkupi vaginaku. Geli sekali
rasanya saat bibir vaginaku tersentuh telapak tangannya. Geli-geli
nikmat di syaraf vaginaku. Aku jadi semakin terangsang sehingga tanpa
dapat ditahan, vaginaku mengeluarkan cairan.
“Hihihi.. Teteh terangsang ya..?”
“Enak aja… sama Kamu mah mana bisa terangsang..!” jawabku sambil
merapatkan selangkanganku agar cairannya tidak semakin keluar.
“Ini basah banget apaan Teh..?”
“Itu sisa air kencing Teteh tahuuu..!” kataku berbohong padanya.
“Teh… memek tu anget, empuk dan basah ya..?”
“Tau ah… Udah belum..?” aku berlagak sepertinya aku menginginkan
situasi itu berhenti, padahal sebenarnya aku ingin tangan itu tetap
berada di situ, bahkan kalau bisa mulai bergerak menggesek bibir
vaginaku.

“Teh… gesek-gesek dikit ya..?” pintanya.
“Tuh kan..? Katanya cuma pegang aja..!” aku pura-pura tidak mau.
“Dikit aja Teh… Please..!”
“Terserah Kamu aja deh..!” aku mengiyakan dengan nada malas-malasan,
padahal mau banget tuh. Hihihi.. Habis enak sih…
Tangan adikku lalu makin masuk ke dalam, terasa bibir vaginaku
terbawa juga ke dalam.
Ouughh..! Hampir saja kata-kata itu keluar dari bibirku. Rasanya
nikmat sekali. Otot di dalam vaginaku mulai terasa berdenyut. Lalu
tangannya ditarik lagi, bibir vaginaku ikut tertarik lagi.
“Ouughh..!” akhirnya keluar juga desahan nafasku menahan rasa nikmat
di vaginaku.
Badanku terasa limbung, bahuku condong ke depan. Karena takut jatuh,
aku bertumpu pada bahu adikku.

“Enak ya Tehh..?”
“Heeh..,” jawabku sambil memejamkan mata.
Tangan adikku lalu mulai maju dan mundur, kadang klitorisku tersentuh
oleh telapak tangannya. Tiap tersentuh rasanya nikmat luar biasa,
badan ini akan tersentak ke depan.
“Tehh..! Adek juga pengen ngerasaain enaknya dong..!”
“Kamu mau diapain..?” jawabku lalu membuka mata dan melihat ke
arahnya.
“Ya pegang-pegangin juga..!” katanya sambil tangan satunya lalu
menuntun tanganku ke arah penisnya.
Kupikir egois juga jika aku tidak mengikuti keinginannya. Kubiarkan
tangannya menuntun tanganku. Terasa hangat penisnya di genggaman
tangan ini. Kadang terasa kedutan di dalamnya. Karena masih ada sabun
di penisnya, dengan mudah aku bisa memaju-mundurkan tanganku mengocok
penisnya.

Kulihat tubuh adikku kadang-kadang tersentak ke depan saat tanganku
sampai ke pangkal penisnya. Kami berhadapan dengan satu tangan saling
memegang kemaluan dan tangan satunya memegang bahu.
Tiba-tiba dia berkata, “Teh..! Titit Adek sama memek Teteh digesekin
aja yah..!”
“Heeh” aku langsung mengiyakan karena aku sudah tidak tahan menahan
rangsangan di dalam tubuh.
Lalu dia melepas tangannya dari vaginaku, memajukan badannya dan
memasukkan penisnya di antara selangkanganku. Terasa hangatnya batang
penisnya di bibir vaginaku. Lalu dia memaju-mundurkan pinggulnya
untuk menggesekkan penisnya dengan vaginaku.

“Ouughhh..!” aku kini tidak malu-malu lagi mengeluarkan erangan.
“Dek… masukin aja..! Teteh udah nggak tahan..!” aku benar-benar
sudah tidak tahan, setelah sekian lama menerima rangsangan. Aku
akhirnya menghendaki sebuah penis masuk ke dalam vaginaku.
“Iya Teh..!”
Lalu dia menaikkan satu pahaku, dilingkarkan ke pinggangnya, dan
tangan satunya mengarahkan penisnya agar tepat masuk ke vaginaku.

Aku terlonjak ketika sebuah benda hangat masuk ke dalam kemaluanku.
Rasanya ingin berteriak sekuatnya untuk melampiaskan nikmat yang
kurasa. Akhirnya aku hanya bisa menggigit bibirku untuk menahan rasa
nikmat itu. Karena sudah dari tadi dirangsang, tidak lama kemudian
aku mengalami orgasme. Vaginaku rasanya seperti tersedot-sedot dan
seluruh syaraf di dalam tubuh berkontraksi.
“Ouuggggkkk..!” aku tidak kuat untuk tidak berteriak.
Kulihat adikku masih terus memaju-mundurkan pinggulnya dengan sekuat
tenaga. Tiba-tiba dia mendorong sekuat tenaga hingga badanku
terdorong sampai ke tembok.
“Ouughhh..!” katanya.
Pantatnya ditekannya lama sekali ke arah vaginaku. Lalu badannya
tersentak-sentak melengkung ke depan. Kurasakan cairan hangat di
dalam vaginaku.

Lama kami terdiam dalam posisi itu, kurasa penisnya masih penuh
mengisi vaginaku. Lalu dia mencium bibirku dan melumatnya. Kami
berpagutan lama sekali, basah keringat menyiram tubuh ini. Kami
saling melumat bibir lama sekali. Tangannya lalu meremas susuku dan
memilin putingnya.
“Teh..! Teteh nungging, terus pegang bibir bathtub itu..!” tiba-tiba
dia berkata.
“Wahh..! Gila Lu ya..!”
“Udah.., ikutin aja..!” katanya lagi.
Aku pun mengikuti petunjuknya. Aku berpegangan pada bathtub dan
menurunkan tubuh bagian atasku, sehingga batang kemaluannya sejajar
dengan pantatku. Aku tahu adikku bisa melihat dengan jelas vaginaku
dari belakang. Lalu dia mendekatiku dan memasukkan penisnya ke dalam
vaginaku dari belakang.

“Akkkhh..! Gila..!” aku menjerit saat penis itu masuk ke dalam rongga
vaginaku.
Rasanya lebih nikmat dibanding sebelumnya. Rasa nikmat itu lebih
kurasakan karena tangan adikku yang bebas kini meremas-remas
payudaraku. Adikku terus memaju-mundurkan pantatnya sampai sekitar 10
menit ketika kami hampir bersamaan mencapai orgasme. Aku rasakan lagi
tembakan sperma hangat membasahi rongga vaginaku. Kami lalu berciuman
lagi untuk waktu yang cukup lama.

Setelah kejadian itu, kami jadi sering melakukannya, terutama di
kamarku ketika malam hari saat orang tua sudah pergi tidur. Minggu-
minggu awal, kami melakukannya bagaikan pengantin baru, hampir tiap
malam kami bersetubuh. Bahkan dalam semalam, kami bisa melakukan
sampai 4 kali. Biasanya aku membiarkan pintu kamarku tidak terkunci,
lalu sekitar jam 2 malam, adikku akan datang dan menguncinya. Lalu
kami bersetubuh sampai kelelahan.

Kini setelah aku di Bandung, kami masih selalu melakukannya jika ada
kesempatan. Kalau bukan aku yang ke Sukabumi, maka dia yang akan
datang ke Bandung untuk menyetor spermanya ke vaginaku. Saat ini aku
mulai berani menghisap sperma yang dikeluarkan oleh adikku.

Permalink Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.